Salah Satunya Komponen Biaya Bunga, Inilah 4 Alasan Kuat Proyek Kereta Cepat Rugikan Keuangan Negara

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 23 Desember 2022 - 12:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) melewati uji coba. (Instagram.com/@skyscraperindonesia)

Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) melewati uji coba. (Instagram.com/@skyscraperindonesia)

LINGKARNEWS.COM – Sejak awal, proyek kereta cepat Jakarta Bandung, atau sebut saja Kereta Cepat China, sudah menuai banyak masalah.

Pada awalnya, biaya proyek kereta cepat China dibuat lebih murah dari pesaingnya, Jepang, sehingga terpilih sebagai pemenang proyek.

Jepang menawarkan biaya proyek kereta cepat 6,2 miliar dolar AS. Sedangkan China pada awalnya menawarkan 5,57 miliar dolar AS

Yang kemudian membengkak menjadi 5,98 miliar dolar AS, dan membengkak lagi menjadi 6,07 miliar dolar AS. Entah mengapa, Indonesia menerima semua ini.

Pertanyaannya, apakah penawaran awal 5,57 miliar dolar AS hanya sebagai upaya memenangi proyek, tetapi harga yang sebenarnya adalah 6,07 miliar dolar AS?

Kalau memang seperti itu maka penawaran dari China dapat dianggap sebagai manipulasi atau kecurangan proyek?

Selain itu, di lihat dari sisi pembiayaan, penawaran Jepang sebenarnya jauh lebih menarik.

Jepang menawarkan suku bunga pembiayaan (pinjaman) yang sangat murah, hanya 0,1 persen per tahun.

Jauh lebih murah dari suku bunga pinjaman yang ditawarkan China, yaitu 2 persen per tahun, atau 20 kali lipat lebih mahal dari pinjaman Jepang.

Terlepas dari itu semua, faktanya, China telah memenangi proyek kereta cepat.

Masalahnya, proyek tidak kunjung selesai dan biaya proyek juga membengkak terus.

Tidak tanggung-tanggung, biaya proyek diperkirakan membengkak lagi sekitar 2 miliar dolar AS, menjadi 8,1 miliar dolar AS.

Tetapi, berdasarkan audit BPKP pembengkakan biaya proyek kereta cepat ditetapkan 1,68 miliar dolar AS, menjadi 7,55 miliar dolar AS.

Buntut dari itu semua, konsorsium Kereta Cepat Indonesia China minta konsesi kereta cepat diperpanjang (dari 50 tahun) menjadi 80 tahun.

Dikabarkan, pemerintah sedang mempertimbangkan untuk memberi perpanjangan konsesi ini.

Berdasarkan semua fakta di atas, terindikasi pemilihan proyek Kereta Cepat China ini sudah merugikan keuangan negara.

Ada empat alasan untuk itu.

1. Komponen biaya bunga.

Kalau biaya bunga pinjaman masuk dalam evaluasi biaya proyek, maka kereta cepat Jepang seharusnya lebih murah.

Sehingga, pemilihan proyek kereta cepat China, yang secara total lebih mahal dari Jepang, sudah mengakibatkan kerugian keuangan negara.

2. Pembebanan pembengkakan biaya proyek 1,68 miliar dolar AS.

Siapa yang menanggung pembengkakan biaya proyek?
Kalau ini merupakan kesalahan kontraktor, maka harus menjadi tanggung jawab kontraktor.

Dan tidak boleh dibebankan ke pemilik proyek (joint venture), yang apabila dilakukan maka akan menjadi kerugian keuangan negara.

3. Dana talangan pembengkakan biaya proyek 1,68 miliar dolar AS.

Pertanyaannya, siapa yang menalangi pembengkakan biaya proyek selama ini? Sepertinya uang dari pihak China maupun kredit dari Bank belum turun.

Apakah artinya pihak Indonesia yang menalangi pembengkakan biaya proyek, dengan menggunakan APBN?

Karena ini adalah proyek Joint Venture, maka dana talangan dari pihak Indonesia, apalagi kalau pakai APBN, merupakan kerugian keuangan negara?

4. Penambahan Konsesi menjadi 80 tahun.

Dalam kondisi apapun, waktu konsesi tidak boleh ditambah, karena ini merupakan kesepakatan pelaksanaan tender proyek sejak awal bersama pesaing Jepang.

Penambahan waktu konsesi menjadi 80 tahun berarti menguntungkan pihak lain, dan merugikan pendapatan negara dari hak konsesi.

Melihat indikasi dan potensi kerugian negara yang sangat besar dan begitu jelas.

Mengapa pihak yang berwenang, terutama KPK dan DPR, terdiam saja? Apakah keduanya sudah di bawah cengkeraman kekuasaan?

Oleh: Anthony BudiawanManaging Director PEPS (Political Economy and Policy Studies).***

Klik Google News untuk mengetahui aneka berita dan informasi dari editor Lingkarnews.com, semoga bermanfaat.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Efektif Tingkatkan Kredibilitas Dan Kepercayaan Publik
Hillcon Equity Manuver di Pasar, Investor Tunggu Arah Strategi Jangka Panjang
Press Release Berbayar: Kunci Publikasi yang Konsisten dan Transparan di Media
IHSG Melejit Usai Kesepakatan Dagang AS-Indonesia, Apa Risikonya?
Rice Transplanter Masuk Sawah, Produksi Padi di Kalbar Melesat
Danantara dan Rusia Bangun Galangan Kapal Hijau, Libatkan BUMN Strategis
Portal Ekonomi Baru Lahir: Indonomics.com Tawarkan Transparansi Informasi Korporasi untuk Pembaca Internasional
Kejagung Bongkar Skema Impor Minyak Pertamina: Sembilan Tersangka dan Lima Perusahaan Singapura Terlibat

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:15 WIB

Galeri Foto Pers Efektif Tingkatkan Kredibilitas Dan Kepercayaan Publik

Selasa, 12 Agustus 2025 - 11:03 WIB

Hillcon Equity Manuver di Pasar, Investor Tunggu Arah Strategi Jangka Panjang

Jumat, 8 Agustus 2025 - 06:25 WIB

Press Release Berbayar: Kunci Publikasi yang Konsisten dan Transparan di Media

Selasa, 29 Juli 2025 - 13:56 WIB

IHSG Melejit Usai Kesepakatan Dagang AS-Indonesia, Apa Risikonya?

Senin, 23 Juni 2025 - 15:53 WIB

Rice Transplanter Masuk Sawah, Produksi Padi di Kalbar Melesat

Berita Terbaru