Kisah Sedih dan Memilukan, Nenek Cadi’ Tinggal Sebatang Kara di Gubuk Reyot

LINGKARTURATEA.COM, JENEPONTO,-Nenek Cadi’ (72) harus menjalani hidup serba kekurangan. Tinggal di sebuah gubuk reot hanya sebatang kara.

Saat di temui, di rumah gubuknya berukuran 3×5 meter yang berada di lorong jalan Dusun Pelabuhan Desa Bungeng Kecamatan Batang, Jeneponto, SulSel, Nenek Cadi’ menceritakan jika dirinya sudah lama hidup sebatang kara. Suaminya meninggal beberapa tahun silam. Di dalam gubuk reot yang sebagian atap dan dindingnya hancur dimakan usia, nenek Cadi hanya menggantungkan hidupnya dari kebun yang berada di samping gubuknya serta uluran tangan tetangganya.

Nenek Cadi’ hidup di gubuk berukuran 3×5 meter

“Saya sudah lama tinggal disini nak, mungkin sudah bertahun-tahun, makan saja susah nak, apalagi mau perbaiki gubuk ini, uangnya darimana nak. Terkadang saya minta beras dan ikan dari tetangga. Saya hanya hidup dari kebun ini”, tutur Cadi’ sambil menunjukkan kebun miliknya yang hanya berukuran 7×10 meter itu.

Ia menceritakan dirinya terpaksa harus tinggal disana karena tidak punya tempat tinggal.

“Tanah kebun inilah satu-satunya milik saya. Tidak ada uangku nak, untuk bangun rumah yang layak. Gubuk inilah yang saya punya, ini sudah takdir hidup miskin. Saya bersyukur Tuhan masih memberi umur panjang walaupun makan susah. Masih ada tempat berteduh meskipun terkadang kalau hujan, banjir di dalam rumah”, tuturnya dalam bahasa makassar.

Kondisi gubuk nenek Cadi’ sangat memprihatinkan

Nenek Cadi’ kondisi pendengarannya pun sudah tidak berjalan baik sehingga untuk komunikasi suara harus agak ditinggikan.

Di ruangan tempat tidur Cadi’ hanya ada tikar dan beberapa ember. Ruangan sempit dengan dinding yang sudah rusak, sekeliling dinding yang terbuat dari sisa kayu olahan itu sebagian sudah lepas dikekang waktu. Saat malam hari, angin kencang masuk ke dalam kamar lewat celah dinding yang menganga.

Tidak hanya dindingnya yang rusak parah, atapnya sebagian sudah hancur. Bahkan saat hujan turun, isi kamar Cadi’ banjir. Ember di dalam kamar itu, terkadang digunakan untuk menampung air hujan supaya tidak membanjiri ruangannya.

Penulis: Agus Awing
Editor : Aswin